Aslim Taslam

Mei 29, 2008

Dua Musuh Kesuksesan : Rasa Malas Dan Menunda

Diarsipkan di bawah: SAP — aslimtaslam @ 10:49 am

Kita semua pasti pernah mengalami rasa malas sehingga tidak melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Ini merupakan kondisi emosi umum yang menghambat seseorang untuk bertindak. Ketika Anda malas, Anda sebenarnya tahu bahwa Anda harus mengerjakannya, tetapi Anda tidak mengerjakannya juga.

Sebagai contoh, Anda tahu bahwa berolahraga secara teratur itu penting untuk menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh Anda. Anda juga bisa melakukannya tanpa kesulitan, apakah dengan lari pagi (jogging), berenang, bermain bulu tangkis, bermain bola tenis, ikut fitness dan sebagainya. Tapi Anda toh tidak melakukannya juga. Mengapa ? Alasan yang paling umum adalah karena Anda malas melakukannnya.

Mengapa bisa malas ? Alasannya bermacam-macam. Bisa jadi Anda malas karena kurangnya motivasi, tidak merasa perlu, tidak merasa harus atau merasa kurang bermanfaat. Bisa juga karena Anda sudah bosan, jemu, lagi stress, sedang marah atau sedang tidak mood. Atau barangkali juga disebabkan oleh fisik kita yang sedang lelah, lemah, loyo atau kurang stamina. Semuanya bisa membuat kita malas.

Rasa malas memiliki ’saudara’ yang disebut ‘menunda’. Tidak jelas siapa yang ‘lebih tua’, yang pasti keduanya sangat berkaitan. Bisa jadi Anda menunda suatu pekerjaan karena malas. Tetapi bisa juga Anda merasa malas karena telah menunda (merasa terlambat atau kehilangan momentum).

Orang yang suka menunda biasanya selalu punya jawaban atau alasan penundaannya misalnya : “Saya akan melakukannya besok”, “Nanti saja”, “Lain kali saja ya”, “Saya sibuk sekali hari ini” atau “Nanti kalau saya punya cukup waktu” dan sebagainya. Padahal yang seharusnya adalah “Lakukan saja sekarang”, “Just Do It” atau Act TNT (today not tomorrow).

Frank J. Bruno dalam bukunya “Stop Procrastinating” membagi penundaan menjadi lima macam.

Yang pertama adalah penundaan fungsional, yaitu menunda karena sebab-sebab yang bisa dipertanggungjawabkan. Contohnya adalah Anda menunda karena adanya skala prioritas sehingga Anda perlu mendahulukan pekerjaan yang lebih penting dan mendesak. Mungkin juga Anda menunda karena benar-benar sedang sakit atau kelelahan, belum memiliki informasi yang cukup dan sebagainya. Penundaan semacam ini bisa diterima, karena kalau kita memaksa untuk melakukannya sekarang, mungkin hasilnya akan kurang baik.

Yang kedua adalah penundaan disfungsional, yaitu penundaan tanpa alasan yang bisa dipertanggungjawabkan, misalnya karena malas, kurang mood dan lain-lain. Jenis penundaan ini sangat merugikan karena bisa menyebabkan kita kehilangan peluang atau kesempatan.

Jenis yang ketiga adalah penundaan jangka pendek, misalnya Anda punya target waktu satu hari tapi tidak segera memulainya sehingga pekerjaan menjadi molor atau tertunda. Yang dimaksud jangka pendek bisa selama beberapa jam atau beberapa hari tergantung target harinya. Misalnya Anda mempunyai jadwal pertemuan dengan seseorang dan harus berangkat jam 7 malam, tetapi sampai jam 6.45 Anda masih belum bersiap-siap.

Berikutnya adalah penundaan jangka panjang, misalnya Anda ingin berwisata ke Bali, ingin punya bisnis sendiri, ingin menyekolahkan anak Anda ke luar negeri, ingin menulis buku dan sebagainya. Anda punya keinginan di masa yang akan datang atau suatu rencana penting yang tidak mendesak, namun Anda tak pernah melakukan langkah awal yang diperlukan.

Jenis penundaan yang terakhir adalah penundaan kronis atau bisa juga disebut penundaan disfungsional kronis. Ini adalah sikap menunda-nunda yang sudah menjadi kebiasaan sehingga susah dihentikan dan sangat merugikan Anda sendiri. Ia bagaikan pencuri, karena telah mencuri waktu Anda dan merampok kepuasan yang mestinya Anda bisa peroleh. Inilah jenis penundaan yang paling berbahaya.

Termasuk jenis yang manakah Anda ? Mudah-mudahan penundaan yang Anda lakukan hanyalah penundaan fungsional. Amit-amit jika Anda merupakan tipe seorang penunda disfungsional, apalagi yang kronis.(SA).
*) Sucipto Ajisaka, Penulis Buku “Becoming a Magnet of Luck : 10 Faktor Yang Menjadikan Anda Magnet Keberuntungan”.

Bekerja Dengan Cerdas

Diarsipkan di bawah: SAP — aslimtaslam @ 10:47 am
<!––>Seringkali orang memiliki pemahaman yang kurang mendalam tentang bekerja dengan cerdas, karena kebanyakan orang lebih mengenal istilah bekerja keras. Kita bisa menyimpulkan pengertian bekerja dengan cerdas dalam dua kalimat: yang pertama, bekerja secara efektif, dan yang kedua, bekerja secara efisien. Bicara tentang bekerja secara efektif, sebetulnya kita sedang berbicara tentang melakukan suatu pekerjaan yang benar untuk mendapatkan hasil yang benar; sementara itu, bicara tentang bekerja secara efisien, artinya kita berusaha untuk mendapatkan hasil maksimal seperti yang diharapkan dengan usaha dan waktu yang seminim mungkin.

Contoh yang paling sederhana adalah seorang office boy (OB). Ketika salah satu staf meminta seorang OB untuk membuatkan kopi, jika OB ini bekerja dengan cerdas, dia akan bertanya sejak awal apakah ada staf lain yang juga ingin dibuatkan kopi, sehingga dia bisa membuat beberapa cangkir kopi sekaligus. Selain itu, sebelum mulai membuat, dia akan bertanya lebih lanjut seperti apa kopi yang diinginkan: gulanya dipisah, pakai susu, dll., karena masing-masing orang memiliki selera yang berbeda-beda. Jika si OB tidak melakukan tugasnya dengan efektif dan efisien, ia akan mondar mandir antara pantry dan kantor sehingga membuang-buang waktu dan tenaga.

Untuk memunculkan hasil kerja yang efektif dan efisien, dibutuhkan pemahaman yang mendalam dan penguasaan dari pekerjaan yang sedang kita lakukan. Pada masa-masa awal si karyawan menerima tugas dari atasan, ia bisa bertanya sebanyak mungkin tentang bagaimana cara mengerjakannya, seperti apa hasil yang diharapkan, ataupun detil-detil lainnya. Akan tetapi, setelah beberapa kali karyawan tersebut menerima tugas yang kurang lebih sama, pemimpin secara otomatis mengharapkan karyawan tersebut mulai memahami apa yang menjadi keinginan dan harapan dari pemimpin. Seperti yang tadi saya jelaskan, bekerja dengan cerdas juga memiliki definisi ‘doing the right thing to get the right result’. Jika kita tahu dengan pasti apa yang diharapkan oleh pemimpin kita, otomatis kita juga akan melakukan apa yang memang harus dilakukan untuk mencapai hasil yang diharapkan tersebut. Untuk bisa memahami apa yang diharapkan oleh atasan, sebetulnya kita hanya perlu belajar menyelami atau mengenali apa yang menjadi kebiasaan atasan kita.

Bekerja dengan efektif dan efisien
Untuk seseorang bisa bekerja secara efektif dan efisien, yang pertama: dia harus menguasai betul apa yang dikerjakannya. Lalu yang kedua, dia perlu belajar mengenali apa yang diharapkan oleh pemimpinnya, karena tanpa belajar memahami apa yang diinginkan oleh pemimpin, apapun yang kita kerjakan bisa jadi akan dipandang tidak cocok (atau tidak sesuai dengan yang diharapkan) oleh pemimpin.

Seringkali saya mendapati ada karyawan tertentu yang melakukan apa yang diperintahkan oleh pemimpinnya dengan caranya sendiri, dengan pemikiran bahwa hasil yang didapatkan akan jauh lebih baik dari yang dipatok oleh pemimpin, tapi pada kenyataannya hasil yang dia peroleh justru berkebalikan dengan apa yang diharapkan.

Satu hal yang perlu kita pahami, seseorang menjadi pemimpin bukan tanpa alasan. Meskipun seorang pemimpin bisa saja berbuat salah, tapi ia menjadi pemimpin karena ia memang mampu dan memiliki kapasitas untuk menguasai dan menghasilkan sesuatu. Dengan kata lain, ia sudah beberapa langkah di depan kita sebagai seorang karyawan.

Karena itu, belajarlah untuk membangun komunikasi yang baik dengan pemimpin, sehingga sebagai bawahan Anda dapat lebih memahami cara pikir, kebiasaan, dan apa yang diharapkan oleh pemimpin setiap kali ia memberikan tugas. Dengan demikian, apapun tugas yang Anda terima dari pemimpin akan bisa diselesaikan dengan hasil yang maksimal.

Bicara tentang memahami apa yang diharapkan oleh pemimpin, berarti kita perlu memiliki kemampuan untuk mendengar dengan attentive. Yang perlu kita lakukan sebetulnya hanya mendengarkan dengan baik ketika pemimpin memberikan perintah/tugas. Alasan mengapa kita seringkali kesulitan menangkap apa yang diinginkan oleh pemimpin adalah karena ketika pemimpin bicara, pada saat yang sama otak kita juga ‘berbicara’. Dengan kata lain, kita tidak bisa berfungsi seperti busa spon yang menyerap air, padahal sesungguhnya otak kita ini didesain untuk bisa memahami segala sesuatu secara luar biasa. Jadi, ketika seorang pemimpin memberikan perintah/tugas, selama kita memusatkan perhatian dan mendengarkan dengan baik apa yang pemimpin sampaikan, saya percaya kita akan bisa memahami apa yang disampaikan pemimpin tersebut.

Bekerja cerdas berkaitan dengan IQ atau kecerdasan logis seseorang, karena bagaimanapun juga, tanpa terus mengasah kemampuan berpikir, ketika seseorang menerima tugas atau perintah dari atasan, ia bisa meresponi tugas yang diberikan tersebut dengan ‘blo’on’. Memang kata itu kurang enak didengar, namun seringkali itulah yang terjadi. Apalagi jika pemimpin kita memiliki latar belakang pendidikan yang cukup tinggi, sehingga ketika memberikan perintah seringkali menggunakan istilah-istilah yang terdengar asing bagi kita. Dalam situasi yang demikian, jika kita tidak sepenuhnya memahami apa yang pemimpin sampaikan, alangkah baiknya jika kita bertanya dan meminta penjelasan dari pemimpin. Namun, di saat yang sama, ketika pemimpin menjelaskan, ada baiknya kita belajar memahami dari cara pikir yang pemimpin miliki. Setelah mendengarkan penjelasan dari pemimpin, ‘rekam’ semua hal tersebut dalam ingatan kita sehingga ketika pemimpin kembali memberikan perintah/tugas yang kurang lebih sama, kita segera mengetahui apa yang harus dilakukan.

Bekerja dengan Efisien VS Kejenuhan
Kadangkala seseorang menjadi jenuh dengan pekerjaannya karena selama ini ia sudah bekerja dengan efisien. Dalam hal ini, Anda perlu mencari tahu apa yang menjadi penyebab kejenuhan Anda: apakah Anda menjadi jenuh karena tugas yang itu-itu saja, atau Anda menjadi jenuh karena tidak ada tantangan yang baru. Jika Anda menjadi jenuh karena tugas yang begitu-begitu saja sehingga tidak ada tantangan lain yang bisa Anda dapatkan, tidak ada salahnya Anda menjumpai pemimpin Anda dan menceritakan bahwa Anda mengharapkan tanggung jawab atau tantangan pekerjaan yang lebih besar. Anda bisa sampaikan juga bahwa Anda siap melakukan pekerjaan ekstra demi menanggulangi kejenuhan yang ada, karena Anda menyadari bahwa jika Anda bekerja secara efektif dan efisien, secara otomatis ada banyak waktu tersisa yang Anda miliki, karena pekerjaan yang diberikan sudah Anda selesaikan secara maksimal.

Jangan tergoda untuk bermalas-malasan atau bersantai-santai dalam pekerjaan jika Anda mendapati bahwa Anda sudah bekerja secara efektif dan efisien. Ini justru merupakan kesempatan yang baik untuk bisa meminta tugas tambahan dari pemimpin Anda, karena tugas tambahan berarti langkah awal untuk menerima promosi.

Bekerja dengan cerdas sangat besar pengaruhnya terhadap kinerja seseorang. Orang yang hanya bekerja keras hasilnya tidak akan sebanding dengan orang yang bekerja dengan cerdas. Seperti contoh yang tadi saya berikan tentang office boy; seseorang yang bekerja dengan cerdas akan bisa melakukan beberapa tugas sekaligus pada saat yang sama dengan hasil yang maksimal, dalam waktu yang lebih singkat, dengan energi yang lebih sedikit.

Bekerja keras –> bekerja cerdas
Cara untuk mengubah seseorang yang sudah terbiasa untuk bekerja keras menjadi bekerja dengan cerdas adalah: pertama-tama, tentu saja orang yang bersangkutan harus mau meninggalkan kebiasaan-kebiasaan yang selama ini ia miliki dalam bekerja. Misalnya, ada orang-orang tertentu yang memang memiliki kebiasaan malas berpikir. Orang-orang seperti ini harus mau belajar untuk meninggalkan kebiasaan malas berpikirnya dan menjadi orang yang mau belajar serta terus melatih otaknya. Itu sebabnya, saya sering mendapati ada orang-orang tertentu yang memiliki kegemaran mengisi TTS – ini adalah salah satu cara untuk melatih otak kita tetap bekerja secara aktif.

Ada orang-orang tertentu yang mau bekerja dengan cerdas dan efisien, tetapi pekerjaannya berkaitan dengan orang-orang lain yang agak ‘telmi’. Mau tidak mau yang harus kita lakukan adalah mulai membantu orang-orang yang agak ‘kurang cerdas’ dalam bekerja ini sehingga bisa meningkatkan kecerdasan mereka dalam bekerja.

Belajarlah meningkatkan kapasitas Anda untuk berfungsi seperti seorang manajer. Jika kita melihat sebuah dokar, ada kuda yang menarik dokar tersebut, dengan dikendalikan seorang kusir. Mungkin memang ada orang-orang tertentu yang pada dasarnya sudah agak ‘terlambat’ untuk dipacu agar dapat bekerja secara cerdas. Jika itu yang terjadi, mari belajar mengembangkan kapasitas kita seperti seorang manajer, supaya kita bisa mulai mengarahkan para pekerja keras ini dan ‘memanfaatkan’ otot yang mereka miliki untuk mendapatkan hasil seperti yang kita harapkan. Memang konsekuensinya adalah kita harus terus ‘memegang kendali’ atas mereka –kita harus terus mengawasi dan memperhatikan mereka– tapi dengan sedikit bersabar dan terus mengembangkan kapasitas, tanpa sadar kita seperti sedang ‘mengendalikan’ kekuatan dan otot yang mereka punyai untuk mendapatkan hasil yang kita inginkan. Dengan demikian, kita tidak akan menjadi terlalu stres, karena ekspektasi yang kita miliki memang tidak terlalu tinggi lagi – mereka cukup melakukan apa yang kita perintahkan.

Pastikan kita memahami apa yang harus kita kerjakan. Jika kita menerima tugas baru dari pemimpin yang belum kita mengerti sepenuhnya, ambillah waktu untuk mempelajari tugas yang diberikan itu, pahami sedetil mungkin, dan berusahalah untuk menguasai tugas tersebut. Semakin Anda menguasai tugas Anda, semakin Anda bisa mengerjakannya dengan keefektifan dan keefisienan yang tinggi, dan semakin Anda efektif dan efisien dalam mengerjakan tugas-tugas Anda, semakin dekat pula Anda dengan promosi yang diharapkan.

www.kesuksesan-sejati.blogspot.com

Get Success With Marriage

Diarsipkan di bawah: SAP — aslimtaslam @ 10:47 am

Saya baru saja menjawab SMS Konsultasi di program UNH, kali ini yang bertanya seorang pria, dia menuliskan pesan pendeknya: “MOTIVASI APA YG TRBAIK UTK KITA YG MSH MENUNGGU DATANGNYA JODOH, NAMUN SDH ADA KEINGINAN UTK MENIKAH?”

Sepanjang karir saya sebagai penghulu dan konsultan perkawinan, pertanyaan semacam ini sering saya terima. untuk menjawabnya memang susah-susah mudah. susahnya seringkali jawaban kita difahami sekedar sebagai teori, mudahnya karena kita (yang sudah menikah) sudah membuktikannya bahwa itu lebih dari sekedar teori.

Motivasi seseorang dalam menikah memang bermacam-macam, dalam program pre marriage training yang kerap saya selenggarakan, banyak calon pengantin yang menjawab motivasi mereka untuk meraih kebahagiaan ada juga yang mengharapkan keturunan ada juga yang karena cinta aja dan lain sebagainya. Sementara sebagian kalangan yang ‘ragu’ menikah biasanya karena merasa belum sukses, belum memiliki pekerjaan dan penghasilan yang tetap.

Nah, saya ingin mindset semacam ini dirubah, anda tidak boleh ragu menikah karena merasa belum sukses, tapi menikahlah untuk meraih kesuksesan. logikanya sederhana saja, saat anda masih membujang, seluruh fokus dan konsentrasi hidup anda (termasuk pekerjaan) hanya ditujukan untuk kepentingan anda sendiri, ukuran kesuksesanpun menjadi sangat terbatas, dalam bahasa yang ekstrem anda ‘membatasi’ keinginan Tuhan untuk memberikan sesuatu yang lebih kepada anda, lho kok begotu? iya, sedianya Tuhan akan memberikan rezeki berlimpah kepada anda, jika anda memiliki istri dan anak-anak, tapi karena anada hanya sendiri, jadi rezeki yang anda terima ya seukuran kebutuhan anda saja.

Logika ini mungkin kurang tepat untuk anda yang masih dilanda keraguan, tapi baiklah saya ingin anda berfikir ulang, tahukah anda, banyak peluang tercipta ketika kita dalam kondisi kritis, istilahnya gunakan mangemen kepepet, anda harus mengelola posisi kritis anda dan mengubahnya menjadi kekuatan untuk menggapai kesuksesan, yakinlah adrenalin anda akan meningkat segera setelah ijab qobul anda ucapkan.

Saya mendapatkan testimoni dari seorang sahabat yang baru menikah sementara penghasilannya hanya 700 ribu perbulan, dia bekerja di sebuah perusahaan kecil sebagai teknisi AC, dia mengatakan kepada saya bahwa usai menikah dia berfikir keras untuk meningkatkan penghasilannya dan akhirnya tanpa dia tahu persis bagaimana prosesnya, ia semakin banyak menerima order sampingan dan kini tengah meluaskan bisnisnya ke bidang rental video shooting. nah, inilah yang saya sebut sebagai ‘the miracle of marriage”, selalu ada jalan bagi kita untuk memberikan yang terbaik untuk pasangan kita. Bagi anda yang merasa belum memiliki pekerjaan dan berpenghasilan tetap, ubahlah paradigma berfikir anda melalui ministory ini.

Seorang anak muda kebingungan lantaran lamarannya ditolak oleh calon mertuanya, padahal ia sudah memiliki pekerjaan dan penghasilan tetap. penasaran dengan penolakan tersebut, ia bertanya kepada sang calon mertua, dan ia mendapatkan jawabannya: “Maaf ya nak, kami tidak ingin punya menantu yang punya pekerjaan tetap, tapi saat terkena PHK pasti akan berhenti dari pekerjaannya itu, kami hanya ingin punya menantu yang tetap bekerja dan tetap berpenghasilan!!!!”

Nah, semoga anda tidak bingung dan ragu lagi sekarang, mulailah merubah cara pandang terhadap pernikahan. ada baiknya juga anda membaca buku Andrie Wongso Sang Pembelajar, ada inspirasi luar biasa bagi anda yang ragu menikah, anda akan belajar tentang nilai sebuah niat, perjuangan dan ketangguhan dalam ‘menaklukkan’ sang calon mertua yang sebelumnya antipati terhadap calon menantunya.

Selamat berjuang, kibaskan keraguan, raih kemenangan!
Salam Bahagia!
Sahabat Keluarga Anda
Nurul Huda Haem (Penulis Buku Awas Illegal wedding!)

Tips Belajar Berbicara Didepan Umum

Diarsipkan di bawah: SAP — aslimtaslam @ 10:46 am

Tanpa kita sadari, bagi kita yang tinggal di budaya timur, sering kali kita merasa malu untuk berbicara/presentasi di depan umum / Khalayak ramai, kadang kita merasa minder, kurang percaya diri, takut ditertawakan, merasa belum layak, sehingga membuat banyak sekali kesempatan disepan mata yang lewat begitu saja, dan diambil oleh orang lain.

Prinsip tak ada seorang pun yang awalnya berpengalaman, contohnya pada waktu kita lahir ,saat bayi tidak bisa langsung bisa berdiri,butuh merangkak dan belajar berdiri, tidak ada seorang wanitapun yang awalnya pernah punya pengalaman melahirkan seorang bayi.

Saat ini saya mau sharing langkah-langkah apa saja yang perlu disiapkan sebelum kita berbicara didepan orang lain:

  1. Persiapkan bahan untuk presentasi kita, apa saja yang perlu dibicarakan, singkat, padat, buat point-pointnya. Usahakan selalu ditulis sehingga kita mudah membaca, saat presentasi , dan membuat kita lebih focus akan apa yang kita sampaikan.
  2. Persiapkan penampilan kita saat presentasi. Perhatikan penampilan kita dari bawah sampai atas, sepatu, usahakan bersih, celana, kemeja, usahakan warnanya selaras dengan dasi, jas. Rambut rapi, dan lain-lain, ini merupakan faktor penting sehingga membuat kita lebih Percaya diri saat berbicara.
  3. Latihan berbicara didepan kaca, dengan pasangan anda,saudara, orang terdekat dan persilahkan mereka menilai penampilan anda. Siapkan intonasi, gaya bahasa, susunan kata,
  4. Siapkan mental positif bahwa anda bisa melakukannya walaupun yang pertama kali, ingat selalu ada titik awal dalam melangkah, ada pribahasa dari tiongkok mengatakan, 1000 langkah dimulai dari langkah pertama.
  5. Selalu mengevaluasi diri anda setelah latihan, mungkin dengan merekam suara anda lewat Hp, atau Alat perekam lainnya.

No Body perfect , but u can be learn and learn to be perfect, Mentor saya selalu berkata coba, coba, coba dan usaha lagi, dibutuhkan kerja keras, kerja cerdas, kerja berkualitas, kerja tuntas, kerja dengan sepenuh hati, dan iklas.

Persaingan semakin ketat, sukar atau tidak , kita harus maju terus meraih kesuksesan,

Salam Optimis and Maximize Your Self
For info
Ruby Herman

The Path Of Success

Diarsipkan di bawah: SAP — aslimtaslam @ 10:44 am

<!—->“The reason most people never reach their goals is that they don’t define them, learn about them, or even seriously consider them as believable or achievable. Winners can tell you where they are going, what they plan to do along the way, and who will be sharing the adventure with them.” Denis Waitle

Sukses adalah hak setiap orang dan siapapun akan bisa meraihnya asalkan dia mau berusaha atau berdaya upaya ke arah tersebut. Tanpa adanya usaha dan daya upaya kea rah tersebut maka semua peluang dan kesempatan yang baik akan berlalu dengan sia – sia. Disamping itu, untuk meraih sukses, seseorang hendaknya senantiasa memiliki :

  1. PERCAYA DIRI.
    Orang lain bisa /mampu menyelesaikannya maka sudah seyogianya pula, diapun harus bisa menyelesaikannya. Tiada kata TIDAK BISA sebelum mencobanya terlebih dahulu. Jika gagal, jangan langsung menyerah tetapi lakukan terus menerus dengan penuh semangat sampai menemukan formulanya. Tetapi jika tidak bisa juga maka cari lah alternatif / opsi yang lain. You have to pretend you’re 100 percent sure. You have to take action; you can’t hesitate or hedge your bets. Anything less will condemn your efforts to failure. Andrew Grove
  2. PENGETAHUAN.
    Di setiap aspek dari kehidupan, hal yang tervital / terpenting harus dimiliki adalah pengetahuan dan setiap saat harus di update agar tidak sampai tergilas oleh kemajuan teknologi. Pengetahuan sama ibaratnya dengan pedoman / acuan, yang selain menfokuskan arah yang ingin dicapai tetapi juga mengoptimalkan pencapaian sasaran. Tanpa adanya pengetahuan yang memadai, seseorang akan sulit atau tidak tahu cara yang terbaik untuk meraih apa yang telah direncanakan. “The aim of education is the knowledge not of fact, but of values” Dean William R. Inge
  3. CEKATAN.
    Di era yang serba kompetitif ini, segala sesuatunya harus mampu / bisa dikerjakan secekatan mungkin. Jika tidak maka semua peluang dan kesempatan yang muncul, akan segera sirna diraih oleh pesaing – pesaing. Eranya biar lambat asalkan selamat, sudah seharusnya diganti dengan biar cepat asalkan selamat.
  4. BERLAKU JUJUR.
    Siapapun orangnya, apapun status sosialnya dan apapun tingkat edukasinya, pasti tidak akan mau dibohongi atau dikibulin. Atau kepercayaan akan diraih jika seseorang sanggup menunjukkan kejujurannya. Dengan adanya kepercayaan maka secara otomatis pula, semua peluang dan kesempatan akan muncul seketika. Jadi, disetiap derap langkah yang akan dilalui, unsur kejujuran haruslah dijadikan priorita utama atau pedoman hidup, baik dikala senang maupun susah. “We tell lies when we are afraid… afraid of what we don’t know, afraid of what others will think, afraid of what will be found out about us. But every time we tell a lie, the thing that we fear grows stronger” Tad Williams
  5. JAGA MULUT.
    Mulutmu adalah harimau mu. Walaupun pepatah ini dianggap kuno tetapi dampak konstruktifnya sungguh – sungguh luar biasa. Seseorang yang tidak mampu mengontrol / menyaring kata – kata yang seyogianya keluar dari mulutnya maka semua kehancuran akan segera mendera dirinya. Jadi, jika suatu ungkapan yang mana dampaknya adalah destruktif, maka sudah seharusnya tidak diungkapkan. Tetapi jika dampaknya adalah kedamaian, keteduhan dan memotivasi orang – orang agar semakin semangat dalam kehidupan ini maka sudah seyogianya dikembangkan dan diutarakan.
  6. SABAR DAN TENANG.
    Segala kondisi, apakah menyenangkan atau tidak, harus dihadapi dengan sabar dan tenang agar hasilnya selain bermanfaat bagi diri sendiri tetapi juga orang lain. Umumnya, menghalalkan segala sesuatu atau memaksa kehendak untuk mendapatkan segala sesuatu dengan cara yang serba instant / segera, selain merugikan diri sendiri tetapi juga orang – orang lain. “One moment of patience may ward off great disaster. One moment of impatience may ruin a whole life” Chinese Proverb
  7. JANGAN LEPAS DARI JALUR.
    Apapun yang terjadi, jangan sekali – kali keluar dari jalur. Yang namanya kebenaran dan kejujuran, harus tetap dijadikan sebagai satu – satunya pedoman hidup. Never trust anything that can think for itself if you can’t see where it keeps its brain”. J. K. Rowling, Harry Potter and The Chamber of Secrets, 1999

Dengan dimilikinya ke VII hal yang diatas maka jalur kesuksesan akan semakin mudah diraih. Selamat mencoba dan semoga gerbang kesuksesan selalu berada dihadapan kita.

Oleh : Peter Lim, MBA

Blog pada WordPress.com.