Aslim Taslam

10 Persen Yang Tidak Boleh Diabaikan


Pemimpin yang sukses adalah mereka yang proaktif untuk mengatasi masalah
karyawan yang berperforma rendah

Di perusahaan yang sukses, karyawan dengan performa kerja terbaik mudah dikenali biasanya mereka diberikan kesempatan yang lebih luas; pelatihan dalam atau di luar negeri dan program lain yang mendukung mereka untuk berkembang.

Memimpin karyawan berprestasi relatif lebih mudah dibandingkan membimbing mereka dengan performa kerja rendah. Namun, pemimpin yang berhasil adalah mereka yang sukses meningkatkan performa kerja karyawan bermasalah.

Eddy S. Tjahja mengungkapkan bahwa, “mengatur 10% pekerja dengan performa rendah sama pentingnya dengan mengelola 10% pekerja dengan performa terbaik”

Membimbing karyawan berkinerja kerja rendah adalah pekerjaan yang relatif sulit dan hasilnya pun bervariasi. Kemampuan karyawan dapat mengalami kemajuan untuk sementara, dan kemudian malah menurun. Seringkali pemimpin kecewa dan sebagian bahkan putus asa dalam memperbaiki kinerja karyawan.

Untuk mencapai hasil yang diharapkan, pemimpin harus mampu mengidentifikasikan karyawan yang memiliki hati untuk di bimbing kearah perubahan.

Umumnya, karyawan berperforma rendah bukan disebabkan karena mereka tidak berkompeten. Biasanya masalah mereka muncul karena motivasi kerja yang rendah, yang seringkali berakar dari berbagai masalah. Pemimpin yang baik akan membantu para karyawannya untuk menemukan makna dari pekerjaan mereka

Seorang pemimpin harus cepat dan tanggap dalam menemukan akar masalah, saat yang sama tidak mereka-reka apa yang menyebabkan seorang karyawan tidak produktif.

Langkah pertama untuk mengatasi masalah kinerja kerja adalah adanya keterbukaan dan komunikasi antara pemimpin dan karyawan . Atur pertemuan dengan karyawan yang bersangkutan dan tanya pendapat mereka mengenai apa yang menyebabkan masalah yang mereka hadapi saat tersebut. Tunjukkan bahwa anda mendengarkan dan percaya pada kemampuan mereka.

Setelah menyepakati adanya masalah, diskusikan sebab dan tujuan mereka berada di dalam tim. Ingat, karyawan mungkin akan jadi defensif, tapi tetap dengarkan mereka dengan seksama. Dengan menemukan akar dari masalah, anda sudah menuju kearah penyelesaian

Coba untuk temukan hal yang menghalangi si karyawan untuk memperbaiki kinerjanya. Lontarkan ide untuk memperbaiki keadaan dan sepakati solusi apa yang akan membawa perbaikan.

Pada akhir pertemuan, atur pertemuan berikutnya untuk mereview kemajuan yang dicapai. Selanjutnya, kirim email berisi hal-hal yang telah disetujui untuk memperbaiki keadaan. Di pertemuan berikutnya, secara bersama-sama pemimpin dan sang karyawan dapat mengevaluasi hasil pencapaian dari karyawan.

Siap sedia untuk menghadapi kenyataan bahwa pada saat pertemuan ditemukan bahwa sang karyawan tidak mengalami kemajuan karena berbagai alasan dan saat yang sama perlu diingat pula bahwa seorang karyawan berkinerja rendah umumnya akan mengganggu kinerja tim secara kolektif.

Dalam situasi seperti ini pemimpin ada beberapa pilihan. Pertama pemimpin dapat menghindari masalah dan membiarkan manajemen yang lebih tinggi untuk mengatasinya, atau kedua, ia dapat memindahkan karyawan bermasalah tersebut ke tempat lain yang lebih sesuai dengan kepribadiannya. Bila dua opsi tersebut tidak membawa perbaikan, seorang pemimpin dapat mempertimbangkan untuk melakukan pemutusan hubungan kerja.

“Seringkali pemimpin bukanlah orang terpopuler di sebuah perusahaan karena kadang kala mereka terpaksa membuat suatu keputusan yang tidak popular, serta mebawa ke permukaan hal-hal yang orang lain tidak pedulikan. Tetapi mereka tahu bahwa pada akhirnya keputusan tersebut akan mendapat pengakuan dari yang lain ketika mereka mulai mengerti visi dan pengarahan dan menjalankannya dengan konsisten dan rasional,” demikian pendapat Eddy lebih lanjut.

Belum Ada Tanggapan »

Belum ada komentar.

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik

Tinggalkan komentar

Blog pada WordPress.com.